Lahan Basah Taman Nasional Sembilang

Fauna

Seekor bangau bluwok putih sedang berburu ikan di rawa gambut, Taman Nasional Sembilang, Sumatera Selatan. Sebelah kakinya yang ramping berwarna merah jambu terbenam di air. Sebelahnya lagi ditekuk keatas, untuk menjaga kestabilan.

Satwa bernama latin Mycteria cinerea itu tak bisa menyembunyikan kegirangannya saat seekor ikan yang tak menyadari kehadirannya mendekat. Sayapnya yang putih mulus bergerak dan berkecipak di atas permukaan air. Sontak, ikan itu pun kaget dan berlari secepat kilat. Anggota suku Ciconidae itu menelan liurnya yang hampir menetes di paruh panjang berwarna kuning tua. Ia harus kembali menahan lapar, sampai ada ikan lain yang lengah.

Meskipun tergolong sebagai hewan yang soliter, Bangau bluwok lebih menyukai kehidupan yang sepi. Tak heran, ia lebih sering berjalan ke kawasan hutan riparian di tepi sungai, saat ribuah burung migran asal Siberia mampir mencari makan di sepanjang pantai dan hutan mangrove di Taman Nasional seluas 200 hektare lebih itu.

Ia jarang terdengar bersuara. Satu-satunya suara yang terdengar dari hewan ini hanyalah dari paruhnya yang mengatub. Tubuhnya didominasi warna putih dengan bercak hitam di sayap primernya. Sementara, kepalanya yang botak berwarna merah muda.

Bangau sepanjang sekitar satu meter itu merupakan bagian dari habitat lahan basah yang ada di Taman Nasional Sembilang, yang menempati daerah berlumpur dan rawa. Lahan basah adalah kawasan yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem di dunia.

Berdasarkan sejumlah catatan, burung air ini populasinya relatif sedikit dengan perkembangbiakan yang lambat. Ia kesulitan pindah ke sembarang tempat karena hidupnya memang tergantung pada lahan basah. Di Indonesia, persebaran burung ini hanya meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa dan Sulawesi. Koloni berbiaknya pernah diketahui berada di pesisir timur Sumatera Selatan dan Pulau Rambut, termasuk di Taman Nasional Sembilang.

Menyusutnya lahan basah membuat burung yang terkadang melayang tinggi di angkasa ini resah. Alih fungsi lahan menjadi kawasan pertanian, permukiman dan ditambah perburuan membuat jumlahnya berkurang. Diperkirakan, populasi globalnya saat ini hanya sekitar 3.300 individu dewasa. Untuk Sumatera, ditaksir hanya sekitar 1.450 individu sedangkan di Jawa diperkirakan hanya tersisa 400 ekor. “Di Malaysia dan Kamboja, secara berurutan jumlahnya hanya 10 ekor dan 20-30 ekor saja,” kata Bird Conservation Officer Burung Indonesia, Dwi Mulyawati.

Hasil penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh Wetlands International menunjukkan sekitar 60 persen lahan basah di dunia telah mengalami kerusakan atau kehilangan fungsinya akibat kebijakan yang tidak mendukung. Sebagai gambaran, berdasarkan data Konvensi Ramsar yang telah diratifikasi 162 negara, jumlah Situs Ramsar saat ini hanya sekitar 2.045 lokasi, dengan luas kawasan yang mencakup 193.553. 062 hektare.

Indonesia sendiri memiliki luas lahan basah sekitar 40 juta hektar. “Jumlah tersebut mencapai 20 persen dari luas daratan yang ada,” kata Tim Komunikasi Wetlands International Indonesia.

Padahal, manfaat langsung dari lahan basah bagi kehidupan dapat manusia sangat besar. Mangrove dan terumbu karang dapat mencegah abrasi air laut. Jika wilayah pesisir pantai rusak maka resapan air laut akan masuk ke lahan pertanian sehingga dapat merusaknya. Jika air laut meresap ke wilayah pemukiman maka air sumur penduduk akan berubah menjadi asin. “Sedimen dan bahan organik dari air ke dalam lahan basah, dan pertumbuhan serta perkembangan seluruh organisme memerlukan lahan basah untuk kehidupannya.”

Taman Nasional Sembilang merupakan padang pakan bagi burung-burung air, seperti buwok putih, blekok asia, trinil tutul, undan putih, bangau tongtong dan dara laut sayap putih. Tak heran, kawasan ini juga menjadi tempat persinggahan puluhan ribu burung migran asal Siberia saat bermigrasi ke Australia. Sejumlah catatan menyebutkan, terdapat 10-28 jenis burung migran yang datang ke tempat ini, sejak Oktober hingga Desember. Mereka akan menetap antara 3-6 bulan, sebelum akhirnya berpindah ke Australia atau kembali ke Siberia.

Menjaga lahan basah adalah menjaga kehidupan. Tanpa lahan basah yang menjadi padang pakan, tak mungkin burung-burung migran itu mampu menyelesaikan perjalanan sejauh beberapa ribu kilometer lagi. Tanda-tanda ini telah terlihat dari menyusutnya populasi berbagai jenis burung migran hingga 65 persen, selama beberapa tahun terakhir.

“Yang terjadi bagi para burung migran ini adalah jumlah mereka juga berkurang banyak, karena mereka tidak lagi berhenti untuk mencari makan dalam perjalanan migrasi mereka,” kata peneliti dari Universitas Queensland, Dr Nick Murray.*