Burung Indah Kepulauan Togean

Taman Nasional

Dua ekor burung mungil berukuran sekitar 12 cm bertengger di reranting pohon bakau di Pulau Malenge, Taman Nasional Togean, Sulawesi Tengah. Keduanya tampak ‘beradu’ suara, menambah harmoni deburan ombak yang sesekali menyambangi pantai. Bulunya yang didominasi warna hijau menjadi salah satu elemen pesona alam yang ditawarkan kawasan tersebut.

Kedua burung ini dikenal sebagai pleci kacamata togian. Mereka mencuri perhatian para peneliti sejak 1996, sejak dua peneliti Indonesia mulai mengamati keberadaannya yang dinilai berbeda dengan jenis lainnya.

Hasil penelitian dan perbandingan yang dilakukan menemukan bahwa burung jenis ini memiliki dahi hitam layaknya kacamata dahi-hitam Zosterops atrifrons yang banyak dijumpai di daratan Sulawesi. Namun, jenis ini tidak memiliki lingkaran putih di sekeliling matanya, seperti anggota genus Zosterops lainnya.

Ia juga memiliki iris mata berwarna kemerahan, berbeda dengan atrifrons yang berwarna cokelat. Selain itu, dari segi vokalisasi atau suara, kacamata ini juga berbeda dari jenis kacamata lainnya. Pada 2008, ia memiliki nama baru, Zosterops somadikarta, burung pleci kacamatan Togian.

Selain di Pulau Malenge, burung ini juga menjadi koleksi Pulau Binuang, Talatakoh dan Batudaka. Yang unik, burung ini justru tak ditemukan di Pulau Togian dan Walea sendiri.

Ketika pertama kali dideskripsikan, burung ini diusulkan sebagai jenis Genting mengingat daerah sebarannya yang terbatas dan terfragmentasi. Ini karena persebarannya tak terlalu luas, dimana keseluruhan populasi burung ini ditemui pada wilayah dengan luas kurang dari 5000 km2. Namun, karena jenis ini ternyata dapat beradaptasi dengan perubahan habitat dan aktivitas manusia, statusnya kemudian diturunkan. “Saat ini, badan konservasi dunia IUCN menetapkan kacamata togian dalam status mendekati terancam punah,” kata staf Bird Conservation Officer Burung Indonesia, Jihad.

Burung endemis dari Kepulauan Togian ini ditemukan hidup berkelompok di semak-semak dekat hutan mangrove, kebun campuran kelapa, maupun hutan yang relatif terbuka seperti cengkeh, kakao, dan durian. Ia menghuni dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 100 meter di atas permukaan laut. “Burung ini terbilang unik, karena jenis baru ini hanya ditemui di satu tempat dan tidak ditemukan di tempat terpencil,” katanya.

Taman Nasional Kepulauan Togean termasuk dalam garis Wallacea yang menyimpan keragaman hayati sangat tinggi. Kawasan ini terdiri dari ribuan pulau yang berada di antara kawasan Oriental dan Australasia. Pulau-pulau tersebut dimasukkan dalam tiga kelompok yaitu Sulawesi dan pulau satelitnya, Kepulauan Maluku, serta Kepulauan Nusa Tenggara.

“Sedikitnya, ada 307 jenis burung yang terbatas sebarannya hanya di kawasan ini. Jumlahnya mencakup 40 persen dari total 767 jenis burung yang terdata di Wallacea. Selain itu, sekitar 273 jenis (64 persen) burung endemik yang ada di Indonesia berada di wilayah Wallacea. Penemuan jenis baru sangat mungkin ditemukan di Wallacea mengingat wilayah ini kaya akan keragaman hayati,” kata Head of Communication and Knowledge Centre Burung Indonesia, Ria Saryanthi.

Secara total, burung endemik di Indonesia berjumlah 376 spesies. Dari jumlah tersebut, 323 spesies merupakan endemik pulau atau kepulauan, sedangkan 53 spesies masih distribusinya lebih dari satu pulau utama namun masih dalam wilayah Indonesia. Kawasan Sulawesi tercatat sebagai kawasan yang paling tinggi endemisitasnya, yaitu 107 spesies, diikuti oleh Maluku dengan 66 jenis, dan NusaTenggara 47 spesies.

“Khusus untuk jenis pleci ini, kawasan Sulawesi diyakini memiliki setidaknya 9–10 spesies burung kacamata termasuk yang ada di pulau-pulau yang terisolir. Isolasi ini telah mengakibatkan terbentuknya variasi baik dalam morfologi maupun dalam perbedaan suara dan nyanyian.”

Taman Nasional Kepulauan Togean sendiri merupakan gugusan puluhan pulau-pulau kecil yang melintang di tengah Teluk Tomini. Terdapat dua area ekosistem berupa lautan seluas 292 ribu hektar dan datarannya 70 ribu hektar.*

1 thought on “Burung Indah Kepulauan Togean

Comments are closed.