Balada Danau Toba di Tanah Batak

Sejarah

Seekor ikan berekor kuning berenang di Kaldera Danau Toba, Sumatera Utara. Sisiknya yang berwarna putih memantulkan cahaya matahari jam sepuluh, siang itu. Ia adalah ikan pora-pora, penghuni asli danau tekto-vulkanik sepanjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer itu.

Di atasnya, sebuah perahu kecil meninggalkan rerimbun hutan yang menjadi latar. Membelah ketenangan air jernih yang ikut memberikan kesejukan udara yang mulai beranjak siang. Berkeliling, mengelilingi pulau Samosir. Sebelum akhirnya bersauh di salah satu sudutnya.

Tapi, cerita tentang air jernih dan rerimbun hutan di Danau Toba hanyalah cerita sepuluh tahun silam. Karena kini, kondisinya sungguh jauh berbeda. Danau yang telah dikenal hingga ke penjuru dunia itu kini dipenuhi keramba apung.

Ribuan ton pakan ikan berbaur dengan air, menyumbang kekeruhan air yang mulai tercemar. Pemerintah setempat bahkan sempat mengeluarkan larangan untuk berenang di sekitar danau, menyusul kualitas air yang tak layak pakai.

Data Badan Lingkungan Hidup Sumatera Utara menyebutkan terdapat sebanyak 8.912 keramba di Danau Toba, sejak 2013. Kondisi tersebut menyebabkan 1,5 ton limbah perikanan mencemari Danau tersebut, setiap tahunnya.

“Dari pemeriksaan laboratorium, limbah perikanan mengandung senyawa kimia BOD, COD dan Fosfor diatas rata-rata. Ini harus ditekan agar pencemaran air tak makin parah,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Sumatera Utara, Hidayati.

Kalau dulu, si pora-pora dapat dilihat dengan mata telanjang, kini tidak lagi. Populasi ikan sepanjang 10 centimeter itu terus mengalami penurunan cukup drastis, bahkan terancam punah. Beberapa catatan dan laporan menyebutkan, ikan khas Danau Toba itu kini berkurang hingga 80 persen. “Hal tersebut telah mendekati pada tingkat waspada kepunahannya.”

Ada beberapa penyebab merosotnya populasi ikan yang juga disebut bilih di perairan Danau Toba tersebut. Adanya sang predarot ikan Kaca-kaca yang terus memangsa telur dan larva Pora-pora, menjadi salah satunya. Tetapi, aktifitas penangkapan ikan oleh nelayan yang tidak terkendali, dinilai sebagai penyebab utamanya. Apalagi, para nelayan kerap melakukan penangkapan di muara sungai sebagai perbatasan danau dan sungai yang menjadi habitat bertelur si Pora-pora.

Kondisi ini masih diperparah dengan gundulnya hutan di sekitar kawasan Danau Toba, akibat perambahan menjadi perkebunan holtikultura dan peternakan, pada awalnya. Izin yang dikeluarkan pemerintah daerah ini ini dilanjutkan dengan pemberian izin pemanfaatan kayu, yang semakin memperluas tingkat kegundulan hutan. Belakangan, titik-titik api akibat kekeringan dan pemanasan global, ikut menjadi penyebabnya.

“Kondisi hutan sekitar Danau Toba cukup memprihatinkan, hingga perlu peningkatan penindakan hukum bagi pelaku pembalakan liar dan menggiatkan menanam pohon,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, beberapa waktu lalu.

Perubahan habitat dan ekosistem di sekitar danau tersebut dikhawatirkan mempercepat bangunnya sang gunung purba yang tengah tertidur lelap. Kawasan ini bahkan diyakini sebagai satu dari 11 gunung super-vulkanik yang ada di dunia.

Sejumlah catatan menyebutkan, letusan gunung Toba menyebabkan langit bumi menghitam oleh abu vulkanik, sekitar 75 ribu tahun silam. Letusan vulkan purba itu diyakini 100 kali lipat lebih besar ketimbang erupsi terbesar dalam sejarah manusia modern, yakni gunung Tambora, yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di langit utara pada 1816.

Ledakan supervulkan tersebut seketika mengubah wajah Bumi dan menyeret manusia kembali ke zaman batu. Ledakan tersebut juga dapat memangkas populasi manusia menjadi tinggal segelintir saja.

Penelitian Michigan Technological University menyebutkan letusan Toba adalah erupsi terbesar dalam 2,5 juta tahun terakhir. Jejak abu vulkanik dari ledakan Toba misalnya tersebar di sepanjang Samudera Hindia hingga ke Afrika Timur. Letusan tersebut memuntahkan 2800 kilometer kubik debu vulkanik hingga ketinggian 80 kilometer. Jumlah sebesar itu bisa dipakai buat membangun 19 juta gedung 100 tingkat.

Ledakan tersebut juga diperkirakan telah mengubah iklim Bumi sepenuhnya. Diperkirakan awan vulkanik yang menutupi matahari menyebabkan penurunan suhu global antara 3 hingga 5 derajat Celcius. Ilmuwan mencatat letusan Toba menyebabkan tahun terdingin pada periode glasial terakhir di Eropa.

Saat ini, kamar magma Toba diyakini telah kembali terisi penuh. Salah satu buktinya adalah pulau Samosir yang tumbuh setinggi 450 meter sejak erupsi dahsyat 75.000 tahun silam. “Selain itu sejumlah gempa bumi di kawasan juga menandai aktivitas di kamar magma, seperti gempa bumi tahun 1987 di pantai selatan danau Toba,” tulis laporan dari Michigan Technological University tersebut.

Untuk menyelamatkan hutan Danau Toba, Pemerintah pusat bahkan membuat sejumlah kebijakan, seperti pengendalian lahan kritis melalui rehabilitasi hutan kritis. Juga penanaman bibit, perhutanan sosial berbasis konservasi dan penanaman sabuk hijau pada sempadan danau, dan sungai di sepanjang Danau Toba.

Sejak 2012, penanaman hutan seluas 6.446 hektar dan terus berlanjut. “KLHK juga mengalokasikan dana alokasi khusus tahun ini di tujuh kabupaten sekitar Danau Toba senilai Rp 16,28 miliar,” kata Siti.

Kebijakan ini diikuti oleh kebijakan pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk membersihkan kawasan Danau Toba dari keramba apung, hingga akhir tahun ini.

“Kita pendataan. Akan diberikan kompensasi kepada pemilik kerambah. Mudah-mudahan, rencana aksi ini berjalan lancar,” kata Gubernur Sumatera UTara, Tengku Erry Nuradi.

Kebijakan ini juga diikuti dengan memperbaiki kualitas air danau. “Kita juga penataan pariwisata Danau Toba melalui rencana aksi percepatan program Geopark Nasional Kaldera Toba menuju UNESCO Global Geopark.”*